• HOME
  • BUDAYA
  • KRIMINALITAS
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • PENDIDIKAN
  • PERISTIWA
  • WISATA
  • SOSIAL

Welcome To Share Indonesia

SELAMAT DATANG DI SITUS REDAKSI SHARE INDONESIA - PENYAMPAI ASPIRASI DAN MENGAWAL BIROKRASI
SHARE INDONESIA

Profesionalime dapat Mengubah Persepsi Publik terhadap Debt Collector Debt collector kendaraan bermotor kerap menjadi sorotan. Apalagi, setelah Kepolisian Resor Jember mengumpulkan dan membekali pemahaman hukum fidusia terhadap puluhan debt collector di Hotel Green Hill, Selasa (1/8/2017) kemarin. Pasca acara itu publik kembali menyoroti aktifitas mereka. Lantas seperti apa sebenarnya kerja-kerja para penagih utang tersebut?

Marto Prayitno, terlihat duduk di sebuah emperan toko di kawasan traffic light Mangli, Kecamatan Kaliwates. Rabu (2/8/2017) siang itu, pria berperawakan berewok ini tengah bersama tiga lelaki yang berprofesi sebagai debt collector kendaraan bermotor. Mereka sedang mengamati kendaraan dan memeriksa setiap pelat nomor yang melintas di depan mereka.

Marto -demikian Ia disapa- merupakan debt collector kawakan. Ia telah bekerja selama 13 tahun dan tergolong senior. Warga Kecamatan Mayang ini juga sudah merasakan berbagai tantangan dalam dunia yang Ia geluti.

“Tentu kami mengapresisiasi inisiatif Polres Jember mengumpulkan para debt collector dan membekali pengetahuan tentang bagaimana menjalankan pekerjaan ini dengan tidak menerabas hukum,” katanya, menanggapi kegiatan yang digelar Polres Jember bersama Otoritas Jasa Keungan (OJK) tersebut.

Sesekali, ketiga kawan Marto melihat layar gawai yang dipegang. Jemari mereka mengetik angka pelat nomor pada gawai itu. Jika kendaraan yang dicurigai cedera janji dan sengaja tak membayar cicilan, maka akan muncul keterangan bahwa motor itu telah menunggak pembayaran kredit. Jika sudah begitu, mereka bakal mengejar dan menghentikan pengendaranya.

Pola bekerja seperti inilah yang kerap dikomplain masyarakat. Warga menilai, cara-cara menghentikan di jalan merupakan tindakan preman lantaran kerap bersitegang dengan pengendara yang dihentikan. Apalagi perawakan mereka yang terlihat sangar, kian menambah stigma preman ke para debt collector ini.

Namun, Marto berpandangan berbeda. Menurutnya, motor yang dihentikan itu bukanlah kendaraan yang telat bayar, melainkan motor yang telah berpindah tangan dari konsumen pertama ke pihak ketiga. Karena mereka tak ujug-ujug menghentikan pengendara, tetapi ada sekian mekanisme yang harus dilalui sebelum proses penyitaan kendaraan itu dilakukan.

Marto menjelaskan, cara yang dilakukan itu merupakan langkah terakhir untuk mengambil unit kendaraan. Sebelumnya mereka melakukan pendekatan dengan debitor melalui kunjungan ke rumah. Dalam kunjungan itu, debt collector tidak langsung menyita kendaraan yang telat bayar, melainkan menyarankan kepada mereka untuk melunasi tunggakan cicilan sampai bulan terakhir sesuai daftar tunggakan.

Jika cara pertama tak berhasil, maka kendaraan itu akan menjadi data lapangan. Data lapangan inilah yang menjadi rujukan debt collector menghentikan konsumen yang cedera janji tersebut.

“Ketika menghentikan di jalan pun, kami juga tak menggunakan cara-cara kekerasan. Kami harus pandai-pandai melobi mereka untuk dibawa ke kantor (leasing). Sebab kalau memakai kekerasan kita bisa bentrok,” tuturnya.

Marto tak menyoal stigma negatif yang melekat ke profesi yang Ia geluti. Sebab sejatinya, pekerjaan mereka adalah aktifitas yang legal dan telah sesuai dengan ketentuan undang-undang. Jika ada cara-cara yang menggunakan kekerasan, menurutnya itu adalah oknum. Karena instansi apapun -tak hanya profesi debt collector- juga memiliki personel yang bermasalah dalam melakoni pekerjaannya.

Perkara gagal kredit kendaraan bermotor, sebenarnya telah diatur di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Undang-undang ini mengatur tentang siapa yang berhak melakukan penyitaan terhadap jaminan fidusia.

Pasal 29 ayat (1) beserta penjelasannya menyebutkan, tata cara eksekusi terhadap benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia dapat dilakukan oleh leasing atau pihak yang ditunjuk oleh leasing selama lembaga keuangan tersebut mendaftarkan jaminan fidusia ke Kantor Pendaftaran Fidusia dan telah diterbitkan Sertifikat Jaminan Fidusia. Dasar inilah yang menjadi pegangan para debt collector menjalakan pekerjaannya.

“Dan kami juga dipekerjakaan oleh perusahaan sekuritas yang bekerjasama dengan leasing. Jadi jika bicara legalitas, pekerjaan kami telah sesuai dengan aturan,” tutur Marto.

Meski begitu, Ia sepakat dengan upaya kepolisian dan OJK Jember dalam memberikan sertifikasi kepada debt collector. Hal itu menurutnya, untuk mendorong agar para debt collector bekerja secara professional sehingga stigma negatif yang selama ini dilekatkan bisa memudar dan mengubah persepsi publik tentang pekerjaan mereka.

Hal lain yang bakal dilakukan adalah dengan menghidupkan kembali paguyuban debt collector yang selama setahun terakhir ini vakum. Karena sebelumnya, mereka telah memiliki paguyuban yang bernama Profcoll alias Profesional Debt Collector, sehingga diharapkan dapat menjadi wadah bagi mereka untuk lebih profesional tanpa menggunakan cara-cara kekerasan dalam melakoni pekerjaannya.

Eko Prasetyo, juga sependapat dengan program sertifikasi itu. Debt collector muda ini menilai, sertifikasi ini akan membedakan mana debt collector yang professional dan tidak. Apalagi, ketika ada paguyuban maupun organisasi yang mewadahi mereka. Sehingga ketika ada persoalan hukum yang dihadapi kala bekerja, mereka bisa mendapat bantuan dari organisasi tersebut.

“Sebab tak semua konsumen menyambut baik kehadiran kami, karena pekerjaan ini memang penuh risiko,” katanya.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, di Jember ada seratusan lebih debt collector. Mereka bekerja secara berkelompok antara tiga sampai lima orang. Wilayah operasi mereka berbeda-beda, ada yang di kawasan kota dan di pinggiran kabupaten. Dalam sebulan, setiap kelompok mampu menyita antara 7-10 unit kendaraan, tergantung peruntungannya. Dan setiap unit, mereka menerima Rp1 juta sampai Rp1,5 juta yang dibayarkan oleh perusahaan yang mempekerjakan para debt collector tersebut. (*) 
 
Sumber: http://www.penanusantara.id/main-desktop/berita_detil-1048-detil.html
Profesionalime dapat Mengubah Persepsi Publik terhadap Debt Collector

ANTRE DULU: Program imunisasi campak dan rubella digelar menyeluruh, kemarin. Di SMP Islam Bustanul Ulum (IBU) Pakusari, siswa harus antre untuk mendapat imunisasi campak dan rubella tersebut.


Begini jika bupatinya dokter. Soal pencanangan imunisasi campak dan rubella, dia sendiri yang turun tangan menyuntik peserta imunisasi. Bahkan, Bupati Jember dr Faida MMR, berani menaikkan target yang semula 95 persen jadi 100 persen.
Kata Bupati Faida, dia serius karena imunisasi campak dan rubella, itu menyangkut masa depan kesehatan anak bangsa. Sebab jika sampai terserang virus campak dan rubella, anak-anak bisa terlahir cacat bahkan sampai kematian. “Saya menilai, keputusan presiden ini sangat tepat. Kami yang ada di Kabupaten Jember, mendukung total,” tegasnya, saat meresmikan bulan imunisasi campak dan rubella, di Gedung Serbaguna GOR PKPSO Kaliwates Jember, Selasa (1/8) kemarin.
Bupati Faida, mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi negara dengan campak tertinggi kedua di Asia setelah India. Sedangkan Jatim, peringkat kedua di Indonesia. Pun demikian dengan Kabupaten Jember, yang juga tercatat sebagai daerah terdampak campak kedua di Jatim. “Jika pemerintah pusat memasang target 95 persen, saya tegaskan Jember harus 100 persen,” katanya.
Baginya, merugi kemudian jika sampai ada seorang anak usia 9 bulan hingga 15 tahun, sampai terlewat tidak diimunisasi. Apalagi imunisasi ini gratis. Sebab jika orang tua anak harus imunisasi mandiri, harga imunisasi campak dan rubella ini dibanderol sampai Rp 1,5 juta. “Mumpung gratis, ayo imunisasi campak dan rubella,” pintanya.
Bupati yang juga seorang dokter ini, sempat menyampaikan dampak penyakit campak, yang mampu mengakibatkan radang paru, radang otak, kebutaan, diare dan gizi buruk. Sedangkan rubella, penderitanya rawan kelainan jantung, kelainan mata, tuli, keterlambatan perkembangan, bahkan bisa mengakibatkan jaringan otak rusak.
Selain itu, rubella dinilai sangat membahayakan. Bahkan, ibu hamil juga sangat rawan terserang virus ini. Sampai terjadi, dia memastikan anaknya akan lahir dengan kondisi fisik yang cacat. “Masyarakat belum kebal, jika belum diimunisasi MR (Measles atau campak dan Rubella),” terangnya.
Memang, kata Bupati Faida, penderita campak biasanya memiliki gejala panas tubuh yang sangat tinggi. Namun, kemudian panasnya menurun. Ketika panas tubuhnya turun, mulai muncul bercak merah di sekitar telinga dan mata keluar cairan. Paling bahaya, jika sudah bercaknya mengering. Semisal daya tahan tubuhnya lemah, bisa saja sampai kematian.
Sedangkan rubella, bisa terlihat dari gejala, bahkan juga bisa tidak ada gejalanya sama sekali. Nah, seperti ini yang membuat bupati meminta kepada masyarakat, supaya mewaspadainya. Supaya lebih aman, maka solusinya harus imunisasi. “Sebab jika sudah imunisasi, seumur hidupnya juga sudah terbebas campak dan rubella,” terangnya. Belum lagi, usia setahun sampai 40 tahun masih rawan terserang rubella.
Supaya Jember bebas campak dan rubella, Bupati Faida, mengajak semua kepala sekolah yang ada di Jember, supaya ikut berkomitmen melancarkan imunisasi tersebut. Bahkan kata Bupati Faida, semisal sampai ada siswa yang luput terimunisasi, maka dia sendiri bersama Wakil Bupati Abdul Muqit Arief, yang akan menjemput siswa yang bersangkutan supaya terimunisasi. “Tapi kalau kepala sekolah dan gurunya tidak malu,” sindirnya.
Supaya anak usia 9 bulan hingga 15 tahun di Jember bebas campak dan rubella, bupati memberi tanda tinta biru di jari anak yang bersangkutan, layaknya tinta tanda coblosan di setiap pemilu. Selain siswanya, setiap sekolah yang 100 persen mengimunisasi muridnya, akan diberi sertifikat sebagai tanda bebas campak dan rubella.
Tentu, ada reward bagi sekolah yang telah 100 persen melakukan imunisasi para muridnya. Salah satu reward tersebut, sertifikat 100 persen imunisasi itu bisa dijadikan syarat pengajuan pengembangan untuk pembangunan sekolahnya masing-masing.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember dr Siti Nurul Qomariyah, menghitung ada sekitar 541.024 anak berusia 9 hingga 15 tahun di Jember. Artinya kata dr. Nurul, pihaknya harus mengimunisasi MR pada anak sejumlah tersebut.
Selain pihaknya fokus pada sekolahan, namun kata dr Nurul, posyandu juga akan menjadi ujung tombak suksesnya imunisasi MR 100 persen di Jember. Dia semakin optimistis, karena kader posyandu di Jember sangat bisa diandalkan. “Imunisasi ini wajib. Artinya, guru tidak perlu meminta izin orang tua murid. Cukup memberitahu saja. Apalagi, ini untuk kebaikan anak-anak kita,” imbuhnya. 
(jr/rul/gus/har/JPR)

Sumber: http://www.jawapos.com/radarjember/read/2017/08/02/5196/bupati-ikut-nyuntik-sendiri
Bupati Ikut Nyuntik Sendiri




Dulu, siapa yang mau berjauh-jauh datang ke Ledokombo? Jangankan untuk berkunjung lalu berlama-lama di sana. Mendengar namanya saja sudah banyak yang “mundur” duluan. Selain cukup jauh dari pusat kota Jember, dulu wilayah ini masuk zona merah. Daerah miskin. 
LAIN dulu lain sekarang. Ledokombo kini sudah menjelma menjadi gadis seksi. Jika dulu diemohi, kini jadi salah satu destinasi andalan. Tak hanya warga lokal, wilayah ini sudah mampu membetot perhatian dunia. Bahkan, banyak kunjungan dari manca. Sekadar ingin pelesir sampai melakukan penelitian.
Semua tak lepas dari peran komunitas Tanoker. Sebuah komunitas yang terinspirasi dari kondisi riil masyarakat Ledokombo. Ledokombo dikenal sebagai salah satu kecamatan di Jember yang warganya banyak memilih untuk bekerja ke luar negeri. Hal ini tidak terlepas kondisi ekonomi masyarakat di sana. Untuk lepas dari jerat kemiskinan, warga lebih memilih menjadi buruh migran. Sayangnya, banyak warga Ledokombo yang menjadi buruh migran tanpa jalur resmi, sehingga berpotensi menjadi korban perdagangan manusia.
 “Mereka berangkat ke luar negeri kebanyakan lewat calo yang mayoritas dari mereka tidak mendaftarkan dirinya melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi,” tutur Sisillia Velayati, koordinator divisi sosial politik dari Komunitas Tanoker, yang banyak melakukan advokasi untuk perlindungan buruh migran beserta keluarganya yang ditinggalkannya di  Ledokombo. 
Selama beberapa tahun terakhir, komunitas Tanoker cukup berperan dalam mendorong kebangkitan citra Kecamatan Ledokombo. Tidak sekadar menciptakan taman bermain beserta program-program untuk mengajak anak-anak setempat ikut riang gembira. Komunitas ini juga aktif melakukan pendataan sebagai salah satu upaya advokasi bagi buruh migran asal Ledokombo. 
 “Kami membangun konsep pengasuhan bersama. Karena sebagian besar mereka yang berangkat kerja ke luar negeri, meninggalkan anak-anak yang harus terus diperhatikan,” tutur Suporahardjo, salah satu inisiator Komunitas Tanoker. Menurut pria asli Ledokombo ini, kebanyakan buruh migran merupakan ibu rumah tangga yang menyerahkan pengasuhan anak-anaknya kepada suami atau kakek-neneknya. Jika dibiarkan begitu saja, kondisi itu bisa menjadi karena mereka yang diberi amanah untuk mengasuh anak belum tentu bisa membesarkannya secara ideal. 
Tak cuma itu. Komunitas Tanoker juga mendorong keluarga maupun para mantan buruh migran untuk bisa mandiri dengan berwirausaha. Salah satunya adalah kelompok usaha bersama yang dinamakan Tanocraft. Kelompok usaha bersama ini menghasilkan kerajinan tangan yang dipasarkan bahkan hingga ke luar negeri. Konsep pemasaran ini, menurut Supo juga didukung dengan program-program wisata yang digagas oleh Komunitas Tanoker, bekerja sama dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) berbasis desa yang ada di Kecamatan Ledokombo. 
 “Agar pengiriman uang (remitansi) dari buruh migran kepada keluarganya di desa bisa berputar secara produktif. Selama ini hanya untuk membeli rumah yang belum tentu menjadi aset produktif,” tutur doktor sosiologi dari Universitas Indonesia ini. 
Upaya Tanoker mendorong wisata berbasis desa selama beberapa tahun terakhir, mampu mengangkat citra Ledokombo menjadi salah satu destinasi wisata dengan keunikannya tersendiri. Ikhtiar ini memiliki multiplier effect pada usaha lain seperti kuliner dan jamu. Beberapa even seperti Festival Egrang mampu menarik perhatian turis dan beberapa pejabat penting di tingkat nasional, untuk berkunjung ke Ledokombo. 
“Kami juga ada Pasar Lumpur setiap akhir bulan. Itu adalah outbond gratis untuk keluarga, yang diselingi stand dari usaha warga desa untuk memasarkan kuliner mereka. Evaluasi kami, Pasar Lumpur bulan lalu lumayan omsetnya hingga jutaan rupiah dalam sehari,” pungkas pria berambut panjang ini. 
Peran komunitas Tanoker memang pantas diapresiasi. Tak hanya mampu lebih memberi warna kepada Ledokombo, tapi juga sangat menginspirasi. Tanokerreen…  (c1/ras)
(jr/ad/har/JPR)

Sumber:http://www.jawapos.com/radarjember/read/2017/08/02/5202/tanokerreen
Tanokerreen…



MEMILUKAN : Keluarga sepertinya pasrah dengan kondisi gizi buruk Asroun Naim (digendong, Red), 3, bocah asal RT 4 RW 1 Dusun Sukosari, Desa Jatisari, Jenggawah.


JEMBER – Bayi penderita gizi buruk di Jember sepertinya seperti gunung es. Data dinas kesehatan tercatat ada 327 bayi di Jember yang mengalami gizi buruk dan kebanyakan berasal dari keluarga kurang mampu.
Pihak keluarga sepertinya pasrah dengan kondisi yang menimpa penderita gizi buruk sehingga semakin memperburuk kondisinya.
Jangankan untuk merawat sang bayi, untuk kehidupan sehari-hari lebih banyak mengharapkan uluran tangan bantuan dari sanak famili, tetangga dan pemerintah.
Seperti Asroun Naim, 3, bocah asal Dusun Sukosari, Desa Jatisari, Jenggawah. Putra kedua pasangan Sumila dan Almarhum Ahmad ini hanya bisa menghabiskan waktunya di tempat tidur. 
Bukan hanya tidak bisa berjalan, tubuhnya yang terbungkus kulit saja ini terlihat cukup memprihatinkan karena di usianya yang tiga tahun bobotnya hanya 7 kg. “Kalau ada yang menggendong baru keluar,” ucap Sumila, sang ibu saat ditemui Jawa Pos Radar Jember di rumahnya kemarin. Bukan hanya itu, bocah ini juga masih belum bisa berbicara sepatah kata pun. Namun, terlihat dari sorot matanya bisa dibaca jika dia terlihat bahagia saat diajak bercanda meskipun tidak banyak bisa bergerak. 
Padahal, anak-anak seusianya seharusnya sudah bisa bermain dan berlari. Bahkan sudah waktunya masuk ke sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau Kelompok Bermain (KB). Berdasarkan informasi dari Sumila, sebenarnya saat lahir Naim tidak mengalami gejala aneh. Bahkan Naim, menurut Sumila, terlahir normal. Seperti kakaknya Fathur Rohman yang kini sudah duduk di kelas 2 MTs.
Namun, perubahan pertumbuhannya ini terhambat saat usianya 15 bulan. “Sekitar satu bulan setelah ayahnya meninggal, dia sakit panas sekali,” tuturnya.
Di keluarganya, ada mitos jika Ahmad, sang ayah belum ikhlas meninggalkan buah hatinya yang masih bayi itu sehingga nggandoli sang anak setelah meninggal dunia.
Tetapi melihat gejalanya, kemungkinan besar karena step alias stuip yakni kejang demam panas tinggi pada sang anak. Dirinya menganggap bocah ini hanya sakit panas biasa sehingga hanya memberikan perawatan seadanya.
Setelah kejadian itulah, kondisi tubuh Naim terus drop bahkan terus memburuk. Di mana Naim sudah tidak terhitung masuk ke fasilitas kesehatan baik puskesmas maupun rumah sakit.
“Ikut, kalau ada kegiatan posyandu tidak pernah absen,” jelasnya. Dirinya pun mengaku juga sering mendapatkan pemberian makanan tambahan (PMT) dari posyandu dan diberikan kepada sang bayi. Namun, kondisinya tidak kunjung membaik dan dikabarkan oleh dokter yang menangani si bocah ini mengalami gizi buruk.
Menurut Sumila, pihaknya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Sumila yang tinggal bersama keluarga besarnya ini juga tidak bekerja alias pengangguran.
Bahkan, untuk hidup bergantung pada keluarganya, tetangga, dan juga pemerintah. Di mana kebetulan memang rumahnya tak jauh dari rumah Kepala Desa Jatisari sehingga sering dibantu secara pribadi. “Juga sudah diberi bantuan beras itu (raskin, Red),” terangnya.
Dengan keterbatasan itulah, Sumila mengaku dirinya tidak bisa memberikan perawatan lebih untuk bisa menyehatkan Naim. Dirinya mengaku pasrah dengan nasib tersebut dan tetap berusaha merawat Naim dengan baik.
Perawatan khusus biasanya dilakukan jika kondisi Naim memang sedang drop alias jatuh sakit.
“Biasanya sakitnya panas, rewel, diare,” tuturnya. Dirinya mengaku sudah sering bahkan hampir dua minggu sekali membawa anaknya ke Puskesmas Kemuningsari Kidul dan juga RSD dr Soebandi. Jika sudah agak baikan, sang bocah malang ini dibawa pulang kembali dan menjalani kehidupan seperti biasanya.
Sementara itu, saat Jawa Pos Radar Jember ke sana, kebetulan ada kunjungan dari Camat Jenggawah Rahman Hidayat. Dirinya memang memantau perkembangan Naim yang ramai di media sosial. Terkait Naim, diakuinya baik tetangga, pemerintah desa, maupun kecamatan tidak tutup mata. “Kalau pas sakit pasti selalu ada petugas yang mengantarkan,” jelasnya.
Bahkan, pihak desa dan kecamatan selalu membantu dengan memproses surat pernyataan miskin. “Untuk Kartu Jamkesmas baru jadi beberapa hari lalu,” jelasnya. Ini juga berkat kesigapan desa yang mengusulkan agar keluarga Naim bisa mendapatkan BPJS Kesehatan tersebut. Kartu ini sangat penting jika Naim sakit sewaktu-waktu.
Bukan hanya masalah kesehatan Naim saja, untuk keluarga Sumila juga mendapatkan sejumlah bantuan dari pemerintah termasuk beras miskin dan jaminan sosial lainnya. Sehingga pihak aparat pemerintah juga membantu sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya.
(jr/ram/har/JPR)

Sumber: www.radarjember.com
Gizi Buruk, Tiga Tahun Belum Jalan

Foto Komunitas Orang Jember.
 Bupati Faida menyatakan, setelah Maskapai Wings Air resmi mendarat di Bandara Notohadinegoro Kabupaten Jember, Selasa (1/8/2017), ada satu target lagi yang hendak diraihnya.
"Berikutnya PR kita adalah mewujudkan jember menjadi embarkasi antara. Jamaah umrah Kabupaten Jember saja delapan ribu orang, jamaah hajinya dua ribu orang lebih setiap tahun. Belum (warga) dari empat lima kabupaten sekitarnya," kata Faida, di sela-sela peresmian penerbangan perdana Wing Air.
Faida menegaskan, pembukaan embarkasi antara akan memudahkan ribuan orang beribadah haji dan umrah. "Mengefisienkan waktu, tenaga, biaya, dan ini tentu sangat direspons masyarakat. Mudah-mudahan kesempatan ini bisa terbuka bagi kita semuanya," katanya.
Faida menyadari, untuk mewujudkan cita-cita ini perlu landasan pacu yang memadai. "Kami sedang mengupayakan (penambahan panjang landasan pacu di Bandara Notohadinegoro). Kami bekerja dengan Airnav, maka manajemen penerbangan di Bandara Notohadinegoro ini tak perlu dilakukan lagi. Manajemennya aman. Ini akan jadi bandara kebanggaan kita semua," katanya.
Pembangunan embarkasi dan debarkasi merupakan salah satu dari 22 Janji Kerja Bupati Faida dan Wakil Bupati Abdul Muqit Arief saat kampanye pilkada. Masalah embarkasi ini kemudian menjadi tema diskusi publik yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia dan Iksan Institute, di Hotel Aston, Kabupaten Jember, Kamis (31/3/2016). Saat itu, Sales Manager PT Garuda Indonesia di Kabupaten Jember, Budi Prihantoro memang menyarankan agar Jember membangun embarkasi antara daripada embarkasi utama.
"Kalau ingin Jember sebagai embarkasi utama, (terhalang) faktor geografis. Kita terbentur pegunungan. Bandara Notohadinegoro dikelilingi gunung. Satu-satunya yang bisa mendarat adalah pesawat tipe ATR 72," kata Budi saat itu.
"Karakter geografis membuat manuver pesawat sangat sulit. Permasalahan (lain) runway kita 1.700 meter. Sedangkan untuk pesawat jet paling kecil, butuh (landasan pacu sepanjang) 2.200 meter. Kalau saya bicara jujur, sangat sulit landing bagi pesawat sekelas Boeing 727," kata Budi.
"Di Indonesia ada empat, yakni di Jambi, Lampung, Palangkaraya, dan Gorontalo," katanya. Jember memenuhi syarat jika melihat jumlah jamaah meningkat dari tahun ke tahun, dari 1.655 orang pada 2015 menjadi dua ribu lebih pada 2016.
Dengan adanya embarkasi antara, semua fasilitas pengecekan jamaah haji ada di Jember. "Jadi perpindahan jamaah dari Jember ke Surabaya, pengecekan sudah harus clear (di Jember)," kata Budi saat itu. [wir/ted]
 
Sumber: www.beritajatim.com
MASKAPAI WINGS AIR RESMI MENDARAT DI JEMBER


Jember adalah kota dengan berbagai keindahan yang tercipta secara alami, dan sebagai warga Jember kita memiliki kewajiban untuk merawat keindahan tersebut. Pemerintah telah berusaha merawat dan menjaga Wisata Air Terjun Alami di Jember untuk warganya agar mayarakat jember memiliki Tempat Wisata yang indah dan bisa dinikmati oleh banyak orang, tapi tanpa sadar semakin terkenal Tempat Wisata Jember maka wisata itu akan semakin kotor, karena warga Jember belum memiliki rasa memiliki. Maka dari itu untuk menjaga semua keindahan tersebut sobat semua harus bisa merawat dan menjaga kebersihan disekitar Wisata. Oke sobat kali ini admin akan share Wisata Air Terjun Alami Jember yaitu Air Terjun Seputih Mayang Jember. Air Terjun Seputih Jember ini memiliki keindahan tersendiri, dimana sobat akan menemukan kolam air yang berbentuk lingkaran yang dihiasi dengan Air Terjun Alami layaknya danau namun memiliki aliran air sendiri. Selain itu sobat juga akan disuguhkan dengan keindahan alam yang hijau dan sangat alami sehingga membuat sobat betah berlama-lama di Wisata Air Terjun Alami Seputih Jember ini. 
Wisata Air Terjun Seputih Mayang Jember
Untuk bisa sampai ke lokasi Air Terjun Seputih Jember dari kota Jember sobat harus menuju ke arah timur Banyuwangi, setelah tiba di SPBU Mayang ambil jalur belok ke kanan hingga sampai di perempatan dan ambil arah lurus sampai bertemu dengan petunjuk jalan yang bertuliskan arah Air Terjun Seputih Mayang. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke permukiman penduduk dengan jalan tanah yang hanya bisa dilewati kendaraan roda dua atau motor. Pengunjung bisa menitipkan kendaraannya di rumah-rumah penduduk di ujung jalan perkampungan, dari sinilah perjalanan sobat semua dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan setapak dan pada musim penghujan sobat harus berhati-hati karena trek yang harus dilewati cukup licin. Setelah sampai di lokasi sobat akan disambut dengan keindahan yang masih sangat alami yang diiringi dengan dentuman air yang berirama yang terbentuk dari aliran Air Terjun Seputih Mayang. Air Terjun Seputih Jember ini terdiri dari dua tingkat.
Air Terjun Alami Seputih Mayang
Jangan lupa ketika sobat berkunjung ke Tempat Wisata Jember manapun tetaplah menjaga kebersihan agar Wisata Tersebut bisa terus dinikmati hingga nanti. Jangan lupa juga terus kunjungi HuntingKita.com untuk update terus destinasi wisata untuk sobat semua. Oke sobat itu saja yang dapat admin jelaskan tentang Wisata Air Terjun Seputih Mayang Jember Jawa Timur ini, untuk penjelasan selanjutnya sobat buktikan sendiri dengan datang langsung ke TKP.
 
Sumber: http://www.huntingkita.com/2017/07/wisata-air-terjun-seputih-mayang-jember.html
Wisata Air Terjun Seputih Mayang Jember
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

WELCOME TO SHARE INDONESIA

SELAMAT DATANG DI SITUS REDAKSI SHARE INDONESIA - BERSAMA MENGAWAL BIROKRASI

BAKAL CALON BUPATI JEMBER

BAKAL CALON BUPATI JEMBER

FANS PAGE FACEBOOK

Trending Post

Partisipasi Pemerintah Desa Tanggul Kulon Bendung Penyebaran Virus Corona Patut Diapresiasi

JEMBER, Share Indonesia.id - Kebijakan pemerintah desa Tanggul Kulon Kecamatan Tanggul Jember, dalam mengisolasi warganya yang mudik dari ...

Categories

  • BUDAYA
  • EKONOMI
  • KRIMINALITAS
  • Olahraga
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • PENGUMUMAN
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • SOSIAL
  • UMUM
  • WISATA

Recent Posts

Website Archive

  • ▼  2020 (28)
    • ▼  April (3)
      • Partisipasi Pemerintah Desa Tanggul Kulon Bendung ...
      • 2 Pemudik Zona Merah Masuk Isolasi JSG
      • DAMPAK CORONA: Ringankan Beban Sesama, Komunitas ...
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (12)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2019 (411)
    • ►  Desember (33)
    • ►  November (32)
    • ►  Oktober (32)
    • ►  September (33)
    • ►  Agustus (33)
    • ►  Juli (36)
    • ►  Juni (32)
    • ►  Mei (35)
    • ►  April (39)
    • ►  Maret (42)
    • ►  Februari (30)
    • ►  Januari (34)
  • ►  2018 (174)
    • ►  Desember (10)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (15)
    • ►  Maret (126)
    • ►  Februari (22)
  • ►  2017 (528)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (16)
    • ►  Agustus (66)
    • ►  Juli (64)
    • ►  Juni (64)
    • ►  Mei (73)
    • ►  April (53)
    • ►  Maret (72)
    • ►  Februari (64)
    • ►  Januari (55)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Maret (1)

VISITOR WEBSITE

Flag Counter

Halaman Website

  • HOME
  • MEDIA CYBER
  • PUBLIK SERVICE
Solidaritas Jember. Diberdayakan oleh Blogger.

Labels

  • BUDAYA
  • KRIMINALITAS
  • Olahraga
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
  • SOSIAL
  • UMUM
  • WISATA

Popular Post

  • Ratusan GTT di Jember, Terima SP Serta THR Yang Serahkan langsung oleh Bupati Faida MMR
  • Bupati Faida, Targetkan 9.416 Adminduk "Rampung" Melalui Pendopo Express
  • Gus Firjaun Apresiasi Upaya Bupati Faida Soal Konsep Islam dan Pancasila KH. Ahmad Siddiq

SHARE INDONESIA MAP

VISITORS

Flag Counter

Copyright © 2019 SHARE INDONESIA. Creative By Troops Dhemits Jember TROOPS DHEMITS JEMBER