• HOME
  • BUDAYA
  • KRIMINALITAS
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • PENDIDIKAN
  • PERISTIWA
  • WISATA
  • SOSIAL

Welcome To Share Indonesia

SELAMAT DATANG DI SITUS REDAKSI SHARE INDONESIA - PENYAMPAI ASPIRASI DAN MENGAWAL BIROKRASI
SHARE INDONESIA



WISATA SEJARAH: Bule asing suka menonton mesin lokomotif tua yang masih tersimpan di PG Semboro.


Tidak semua yang kuno, kemudian tak bernilai. Salah satu buktinya, lokomotif jadul bermesin uap milik PG Semboro, kini menjadi magnet turis hingga ilmuwan asing. Seperti apa?
Sepintas, seperti barang rongsokan. Lokomotif jadul bermesin uap, terparkir di lahan kosong paling belakang PG Semboro.
Rumput liar di sekitarnya, semakin memaksa orang percaya, bahwa lokomotif itu sudah tidak bisa digunakan.
Namun siapa sangka, karena nyatanya lokomotif rakitan tahun 1928 itu masih bisa dipergunakan. Memang terkadang rewel. Namun sekali bisa melaju, turis asing pun dibuat kepincut.
Pabrik gula peninggalan era penjajahan Belanda itu memang dikenal memiliki banyak lokomotif kereta lori. Sebuah kereta yang dikhususkan mengangkut tebu.
Namun khusus kereta uap, rupanya keberadaannya mulai langka. “Pabrik kami memiliki beberapa lokomotif bermesin uap. Tapi yang bisa nyala tinggal dua,” kata Agus Wibowo, Humas PG Semboro.
Memang di pabrik gula itu, 30 persen tebunya masih diangkut kereta lori. Namun semua lori, lokomotifnya sudah bermesin diesel. Bahkan di beberapa PG lainnya, lori bermesin uap sudah sulit ditemukan lagi.
Kemudian menjadi magnet. Keberadaan dua lokomotif bermesin uap di PG Semboro, mendatangkan banyak turis asing setiap minggunya. Selalu ada yang berkunjung. Apalagi, di musim giling seperti hari ini. “Mereka bukan sekadar berwisata. Tapi juga belajar dengan menelitinya,” tuturnya.
Merawat lokomotif berumur tua memang unik. Bukan hanya montirnya yang langka, onderdil lokomotif pun juga sulit dicari.
Semisal butuh perbaikan onderdil, montir harus pandai memanfaatkan alat apa adanya yang disebutnya kanibal. “Karena ini aset, kami akan optimalkan,” ujar Agus.
Seringnya dikunjungi turis mancanegara, menjadi bekal semangatnya mewujudkan PG Semboro tak sekadar pabrik gula.
Melainkan klaster wisata unggulan untuk Jember. Mereka optimistis, karena bangunan pabrik di beberapa titik, memiliki nilai sejarah tinggi yang layak dikunjungi.
Emar Aloys Pfannerstill, turis asal German, itu mengaku takjub setelah menjajal lokomotif bermesin uap tersebut.
Terlebih, saat dia diajak keliling hingga ke kebun tebu yang ada di Kecamatan Tanggul. “Ini barang langka. Saya suka,” tuturnya dengan berbahasa Inggris.
Pun demikian dengan pengakuan John Raby, pengunjung asal British. Pria berumur 65 tahun itu, sudah mendengar keberadaan mesin uap di Semboro, sejak setahun silam dari rekannya. “Ini ramah lingkungan,” katanya.
Memang benar, karena lokomotif itu digerakkan dengan uap yang dibangkitkan dari ketel hasil pemanasan kayu bakar. Bahkan dulunya, bahan bakarnya memanfaatkan limbah pabrik.
Meski demikian, masih butuh banyak perombakan, supaya lokomotif uap bisa memiliki gerbong layaknya kereta wisata.
Tetapi, tanpa harus merobah nilai sejarah yang tinggi di lokomotif kuno tersebut. “Kami juga menggagas rute perjalanan wisata Semboro - Kencong, dengan lokomotif uap ini,” imbuh salah seorang petugas PG Semboro.
(jr/rul/hdi/das/JPR)

Sumber:www.radarjember.com
Lokomotif Mesin Uap Bikin Turis Asing Kepincut



AKSI ATRAKTIF: Salah satu penampilan ogoh-ogoh, budaya tradisional yang jadi peserta Karnaval Pandhalungan 2017, kemarin (26/8). Sepanjang lima kilometer di Jalan Gajah Mada, ribuan masyarakat tampil membawakan kearifan lokal masing-masing daerah.


JEMBER – Terik matahari tak menyurutkan semangat peserta karnaval tradisional Jember yang berjalan di sepanjang Jalan Gajah Mada, kemarin (26/8).
Ribuan peserta dari berbagai kalangan dan elemen masyarakat tumplek blek dengan berbagai kostum dalam rangka memperingati kemerdekaan RI.
Seluruh peserta tampil dengan membawakan berbagai tema besar yang mencerminkan semangat nasionalisme Indonesia. Mulai dari kepemudaan, Bhinneka Tunggal Ika, kepahlawanan, kesenian tradisional, hingga profesi dan budaya.
Tercatat 6.553 peserta dari berbagai kalangan mulai Forkopimda, kecamatan, BUMN, paskibra, hingga sekolah serta instansi dan himpunan pemuda tampil dalam 64 defile sepanjang lima kilometer Jalan Gajah Mada tersebut.
Para peserta menampilkan beragam kebudayaan tradisional yang sangat beragam. Tak hanya itu, seluruh 31 kecamatan di wilayah Kabupaten Jember juga memberikan potensi keunggulan masing-masing dalam bentuk karnaval.
Seperti Kaliwates dengan ciri khas edamamenya, Sumbersari dengan dominasi sekolah dan perguruan tingginya, hingga wilayah pinggiran seperti Silo, Mumbulsari, hingga Puger yang juga membawa identitas kecamatan masing-masing.
Dari seluruh kearifan lokal tersebut, seluruhnya memiliki satu visi dan tujuan: menunjukkan identitas Jember sebagai bagian dari persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Hal inilah yang ditekankan oleh Bupati Jember, dr Faida MMR sepada seluruh masyarakat Jember.
Bagi Faida, Jember yang sudah dinobatkan oleh Presiden RI Joko Widodo sebagai kota karnaval Indonesia, tidak ingin hanya dikenal melalui Jember Fashion Carnaval (JFC) saja yang mendunia tetapi karnaval tradisionanya juga dikenal ke seluruh penjuru daerah.
“Jember tidak hanya punya JFC saja, tetapi juga karnaval-karnaval lain yang selama ini belum terorbitkan ke nusantara tetapi tidak kalah menariknya,” ujarnya.
Karnaval tradisional memang menjadi suatu hal yang banyak digelar di berbagai daerah. Di hari yang sama pun, kegiatan semacam ini juga digelar di Bandung, Jawa Barat, dengan konsep yang sama.
Karena itu Faida berharap kegiatan karnaval tradisional yang sudah lama berada di kabupaten Jember harus dapat mengangkat kekhasan daerah Jember. “Apalagi generasi muda saat ini luar biasa. Semua ikut turun baik tua maupun muda,” lanjutnya.
Dirinya sendiri juga ikut menilai seluruh peserta karnaval yang start dari Gedung Serbaguna Kaliwates kemarin. Melihat penampilan seluruh peserta, Faida mengapresiasi persiapan peserta yang dinilai cukup antusias.
“Saya lihat sudah ada persiapan, utamanya potensi agro dari masing-masing kecamatan. Mudah-mudahan dapat menjadi kesempatan marketing produk lokal,” tegasnya.
(jr/lin/hdi/das/JPR)

Sumber: www.radarjember.com
Ribuan Peserta, Puluhan Defile, Satu Pandhalungan



Pengecer Togel Kembali Tertangkap, Duh! Kali Ini Orang Semboro 
Unit Satuan Reserse Kriminal Polsek Semboro menangkap Hartono, warga Dusun Klompangan, RT.01 RW.16, Desa Pondokjoyo, Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember, Senin (28/8/2017). Pria 47 tahun ini diamankan karena diduga menjadi pengecer judi toto gelap alias togel.

Informasinya, polisi menangkap lelaki paruhbaya ini di sebuah warung kopi yang berada di Dusun Krajan, Desa Pondokdalem, kecamatan setempat, saat melayani pembelinya sekira pukul 19.30 Wib. Ia ditangkap petugas tanpa perlawanan dan langsung diamankan di Mapolsek Semboro.

"Dari tangan tersangka kita menemukan satu unit ponsel merek polytron warna putih, yang di menu sms terdapat tombokan nomer togel dari para pembeli," ungkap Kapolsek Semboro, AKP Subagyo, Senin malam.

Menurut Bagyo, penangkapan terhadap tersangka berawal dari informasi masyarakat yang diterima petugas Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) polsek setempat. Informasi itu menyebutkan, di warung kopi tersebut ramai digunakan untuk transaksi judi jenis togel.

"Setelah dilakukan penyelidikan ke lokasi ternyata benar, selanjutnya anggota langsung menggerebek dan menangkap tersangka," terangnya.

Guna penyidikan lebih lanjut polisi mengamankan tersangka bersama barang bukti berupa sebuah ponsel dan uang tunai sejumlah Rp101 ribu yang diakuinya sebagai uang hasil tombokan togel.

“Atas perbuatannya penyidik menjerat tersangka dengan pasal 303 KUHP tentang perjudian, dengan ancaman hukumannya maksimal 10 tahun penjara," pungkasnya. (*)
 
Sumber:http://www.penanusantara.id/main-desktop/berita_detil-1225-detil.html
NGECER TOGEL, WARGA SEMBORO DITANGKAP


Berdalih LGBT, Lomba Fashion di Jember Dibubarkan Wajah Ketua Penyelenggara lomba fashion dan modeling The King and Queen of Java 2017, Naning Sisiana, terlihat lelah. Ia baru saja mengalami pengalaman traumatik, karena polisi membubarkan paksa acara peragaan busana batik yang bertajuk Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Acara itu Ia gelar di Hotel Aston Jember.

Pembubaran tersebut karena ada laporan dari Organisasi Masyarakat (Ormas) Keagamaan di Jember yang menuding kegiatan tersebut ada unsur LGBT [Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender], karena diikuti oleh sejumlah waria.

“Padahal kegiatan kami murni untuk mencari bakat model. Dan beberapa pesertanya juga terdiri dari anak-anak yang didampingi orang tuanya,” katanya, saat menggelar press rilis Minggu (27/8) sore kemarin.

Pimpinan May Enterprise itu mengaku sangat terkejut saat kegiatan hendak digelar. Tiba-tiba mereka didatangi polisi yang jumlahnya cukup banyak. Kedatangan pihak polisi pun dinilai berlebihan, karena ada sikap arogansi saat meminta kegiatannya dibubarkan. Polisi juga menekan penyelenggara dan meminta membubarkan kegiatan itu dalam waktu tiga menit.

“Padahal kami sudah prosedural meminta izin ke pihak kepolisian. Mulai dari Polsek Kaliwates, yang kemudian ditembuskan ke Polres Jember. Dari Polres izin kami belum keluar. Tapi kami sudah beriktikad baik meminta izin keramaian,” ujarnya.

Naning merasa kecewa, sebab pembubaran itu dilakukan setelah para peserta berkumpul semua. Alasannya juga tak masuk akal, pembubaran itu lantaran ada permintaan dari salah satu Ormas Keagamaan di Jember. Naning menuturkan, kala itu salah seorang polisi berkata, “kalau tidak dibubarkan dikhawatirkan ada pertumpahan darah”.

Karena merasa ditekan, panitia pun memilih membubarkan kegiatannya. Meski mereka akhirnya harus rugi jutaan rupiah. Yang membuat mereka kecewa berat, nama baik organisasinya tercemar.

Gembos adalah salah satu peserta kegiatan itu. Kepada wartawan dirinya mengaku rugi. Karena beberapa pesanan busana dari sejumlah peserta cilik harus diurungkan akibat aksi pembubaran tersebut. Padahal busananya sudah siap dan tinggal dipakai.

Dia semakin kecewa, karena ada tudingan acara tersebut adalah kegiatan para waria yang dianggap mendukung kampanye LGBT. Padahal menurutnya, kegiatan itu rutin dan sering digelar di kota lain yang melibatkan anak-anak dengan dampingan orang tuanya.

“Ada bancinya memang iya. Tapi bukan pesta banci. Bancinya hanya merias, bikin pakaiannya dan itu hak warga negara mencari nafkah,” tegasnya.

Pria yang mengaku salah satu aktivis binaan Komnas HAM itu akan melakukan koordinasi dengan organisasinya di pusat. Karena pembubaran itu dinilai telah melanggar hak asasi manusia (HAM).

Kasus pembubaran ini, menambah deretan panjang perlakukan diskriminatif yang berdalih LGBT. Berdasarkan laporan LSM Arus Pelangi 2013, yang dirilis laman tirto.id, tercatat 89,3 persen LGBT di Indonesia pernah mengalami kekerasan dan perlakuan diskriminatif.

Dari mereka yang diperlakukan tidak adil tersebut, 79,1 persen responden mengaku pernah mendapat kekerasan psikis, 46,3 persen mengalami kekerasan fisik, 26,3 persen kekerasan ekonomi, dan 45,1 persen kekerasan seksual.

Sementara itu, Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo, membenarkan jika anggotanya melakukan pembubaran acara tersebut. Dia harus bersikap cepat, karena sudah ada salah satu ormas yang akan membubarkan acara tersebut. Jika polisi tidak segera melakukan tindakan antisipasi, pihaknya khawatir terjadi aksi kekerasan.

Kusworo mengakui, alasan ormas itu meminta kegiatan tersebut dibubarkan, karena dituding acara LGBT. Namun dia berjanji, akan menyelesaikan persoalan itu dengan pihak penyelenggara. Bahkan, pihaknya siap berdialog dengan pihak mana pun, untuk menyelesaikan hal demikian.

“Karena polisi bertanggungjawab atas keamanan dan ketertiban masyarakat,” pungkasnya. (*) 
 
Sumber: http://www.penanusantara.id/main-desktop/berita_detil-1219-detil.html
TERINDIKASI LGBT LOMBA FASHION DIJEMBER DIBUBARKAN PAKSA



MOTIF ASMARA: Mugi Sariyanto, 27, korban yang dibacok Bayu Ananda mengalami luka bagian kepala dan lengan kiri. Dia dirawat di Puskesmas Puger ditemani Murti, ibunya.


PUGER – Sejumlah pedagang yang ada di dalam Pasar Puger Desa Puger Kulon, Puger mendadak gempar, kemarin.
Pasalnya, dalam pasar yang setiap hari selalu dipadati warga itu dihebohkan dengan kasus pembacokan.
Mugi Sariyanto, 27, warga Dusun Krajan, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, dibantai oleh Bayu Ananda Saputra, 33, warga Dusun Krajan, Desa Mojosari, Kecamatan Puger.
Aksi brutal itu dilakukan  di depan ibunya, Murti, 51, yang kebetulan berjualan nasi pecel di dalam Pasar Puger.
Akibat kejadian itu, korban mengalami luka cukup parah di bagian kepala, lengan, dan tangan sebelah kiri.
Sementara pundak mengalami luka memar setelah dipukul dengan benda tajam. Korban juga mengalami luka di bagian kaki dan punggungnya.
Masih untung, korban berhasil lari dari aksi brutal itu. Selanjutnya beberapa warga yang kebetulan berada di sekitar lokasi melakukan penangkapan terhadap Bayu Ananda. Warga juga ada yang nekat merebut clurit milik pelaku yang digunakan membacok korban.
Warga lain menghubungi petugas polsek setempat. Sementara korban langsung ditolong warga sekitar, dengan dilarikan ke Puskesmas Puger untuk mendapatkan pertolongan.
“Sebelum pelaku membacok anak saya, dia sempat mengucapkan assalamualaikum,” ujar Murti, saat ditemui di Puskesmas Kencong kemarin.
Kemudian pelaku mencari Mugi Sariyanto. Saat ketemu itulah, terjadi cekcok antara pelaku dengan korban. Setelah itu, pelaku langsung mengeluarkan celurit dari balik bajunya. “Saya langsung menjerit minta bantuan saat anak saya dibacoki,” aku Murti.
Sementara Mugi Sariyanto menyebut, sebelum membacok  dirinya, pelaku ini pernah sesumbar siapa pun yang mengganggu istrinya akan dipotong lehernya.
“Saya dituduh ada main dengan istrinya saat pelaku kerja ke NTT. Memang selama ini istrinya mengaku tidak dikirimi uang belanja cukup lama,” ujar korban.
Dia tak menyangka, pelaku datang ke dalam pasar akan membunuhnya. Apalagi saat kejadian dia berdiri tidak jauh dari tempat ibu yang berjualan nasi pecel di dalam pasar. 
Pelaku pertama kali membacok dan mengenai bagian lengan. Selanjutnya terus membacok yang kedua kalinya mengenai bagian kepala sebelah kiri.
”Dia (pelaku) terus mengayunkan celuritnya tetapi sempat saya tangkis. Sehingga bagian tangan kiri mengalami luka yang cukup parah,” ujar korban.
Kapolsek Puger AKP Sudaryanto melalui Kanitreskrim Aiptu Joko Susilo membenarkan telah mengamankan pelaku penganiayaan yang terjadi di dalam pasar.
Pihaknya masih memintai keterangan dari beberapa saksi yang tahu saat kejadian. ”Yang paling tahu yakni Murti ibu korban yang tahu saat pelaku datang,” jelasnya.
(jr/jum/hdi/das/JPR)

Sumber: www.radarjember.com
Dibacok di Depan Ibunya



JAKARTA - Persiapan pengembangan Bandara Notohadinegoro Jember terus digenjot Bupati Faida. Berbagai lobi di pemerintah pusat pun dilakukan Pemkab Jember dalam sepekan ini.
Salah satu fokus lobi Pemkab Jember, soal pelepasan tanah PTPN yang selama ini digunakan untuk bandara. Lobi bukan lagi untuk memperpanjang hak pinjam lahan. Melainkan fokus pada pelepasan lahan menjadi hak milik Pemkab Jember.
Seperti yang dilakukan Jumat (25/8) kemarin. Rombongan Bupati Jember, mendatangi kantor Kementerian BUMN di Jakarta. Mereka langsung menggelar konsolidasi bersama Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian BUMN, membahas teknis pelepasan lahan milik PTPN, yang tak lain perusahaan di bawah kementerian tersebut.
Belum ada kesepakatan pasti soal pertemuan tersebut. Namun, sinyal keseriusan melepaskan aset perkebunan untuk Pemkab Jember, rupanya semakin jelas ditunjukkan Kementerian BUMN. Bahkan, mereka pekan depan berencana datang ke Jember untuk menindaklanjuti.
Kepada Jawa Pos Radar Jember, Bupati Faida, terus menegaskan keseriusannya mewujudkan Jember menjadi embarkasi antara haji dan umrah.
Terlebih, cita-citanya itu didukung penuh Presiden Joko Widodo. "Bapak Presiden begitu serius mendukung. Kami yang didukung, harus jauh lebih serius," katanya. 
Kata Faida, soal pelepasan tanah untuk Bandara Notohadinegoro, kuncinya ada di Kementerian BUMN. Sebab, PTPN merupakan perusahaan negara yang ada di bawah Kementerian BUMN. "Kami bersyukur, respons Kementerian BUMN sangat baik," katanya.
Komitmen tegak lurus bupati pun, juga dimainkan untuk proses pengembangan bandara. Supaya tidak terjadi persoalan hukum di kemudian hari, bupati melibatkan pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember.
Kajari Ponco Hartanto, saat diwawancarai di Kantor Kementerian BUMN, menyambut baik komitmen Bupati Faida. Katanya, memang seharusnya bupati harus mengantisipasi persoalan hukum sebelum terjadi.
Apalagi, niatan untuk embarkasi antara haji dan umrah, sebuah upaya kebaikan untuk umat yang tak lain warga Jember dan sekitarnya.
"Selama ini kejaksaan intens diajak berkomunikasi. Supaya dalam proses pelepasan lahan bandara, tidak menimbulkan persoalan hukum. Saya menilai ini baik," tuturnya.
Perlu diketahui, tanah PTPN yang dimohon untuk bandara seluas 120 hektare. Selain itu, kedatangan Presiden Joko Widodo di Jember, sudah berjanji akan mengucurkan anggaran bernilai ratusan miliar rupiah. Dana itu untuk pengembangan terminal bandara dan runway.
Presiden Joko Widodo, bahkan berani memasang target proyek bandara di Jember harus selesai di tahun 2019. Menginginkan segera selesai, supaya manfaat bandara untuk sub embarkasi haji dan umrah, segera terealisasi dan cepat dinikmati masyarakat. 
Kemudian, janji presiden ditindaklanjuti kedatangan Menteri Perhubungan (Menhub). Saat tiba di Jember, Menhub lebih bicara soal teknis.
Seperti postur anggaran yang dipatok Rp 370 miliar di tahun 2018, dan perpanjangan runway menjadi 2.400 meter dengan lebar 45 meter. 
Saat itu, Menhub Budi Karya, menilai bahwa panjang runway yang demikian, sudah layak untuk landasan terbang semua maskapai yang ada di Indonesia. Artinya, pesawat untuk kepentingan embarkasi pun, juga sudah cocok untuk Jember.
Menhub memang sempat menjelaskan, bahwa anggaran pemerintah pusat bisa dicairkan, apabila lahan bandara sudah menjadi milik Pemkab Jember.
Meski kemudian, status Bandara Notohadinegoro harus di-take over ke pusat. Namun, pemkab masih bisa mengelola dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
Supaya persiapan embarkasi lebih konkret, Pemkab Jember pun juga sudah menyiapkan rencana pembangunan asrama haji.
"Pemerintah pusat fokus pengembangan bandaranya, kami yang di daerah menyiapkan asrama hajinya," kata Faida.
Asrama haji bukan hanya untuk haji. Melainkan juga untuk wisma atlet, wisma daerah, wisma diklat, dan hotel transito. Supaya muncul multi manfaat.
"Kami tidak ingin wisma haji hanya untuk haji. Tapi harus menimbulkan manfaat lain untuk masyarakat Jember," terangnya. 
Bupati Faida berharap ada dukungan dan doa dari masyarakat. Bahkan, pengawalan dari pihak dewan, juga diharapkan untuk Jember baru yang lebih baik. 
Perlu diketahui, saat Menhub berkunjung ke Jember, Jawa Pos Radar Jember, juga pernah mendapat keterangan dari Ketua DPRD Jember, Thoif Zamroni.
Dia mendukung rencana pengembangan bandara tersebut. "Selama untuk kebaikan masyarakat, DPRD mendukung penuh langkah baik eksekutif," katanya. 
(jr/rul/hdi/das/JPR)

Sumber: www.radarjember.com
Pelepasan Lahan Bandara Dapat Sinyal Positif
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

WELCOME TO SHARE INDONESIA

SELAMAT DATANG DI SITUS REDAKSI SHARE INDONESIA - BERSAMA MENGAWAL BIROKRASI

BAKAL CALON BUPATI JEMBER

BAKAL CALON BUPATI JEMBER

FANS PAGE FACEBOOK

Trending Post

Partisipasi Pemerintah Desa Tanggul Kulon Bendung Penyebaran Virus Corona Patut Diapresiasi

JEMBER, Share Indonesia.id - Kebijakan pemerintah desa Tanggul Kulon Kecamatan Tanggul Jember, dalam mengisolasi warganya yang mudik dari ...

Categories

  • BUDAYA
  • EKONOMI
  • KRIMINALITAS
  • Olahraga
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • PENGUMUMAN
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • SOSIAL
  • UMUM
  • WISATA

Recent Posts

Website Archive

  • ▼  2020 (28)
    • ▼  April (3)
      • Partisipasi Pemerintah Desa Tanggul Kulon Bendung ...
      • 2 Pemudik Zona Merah Masuk Isolasi JSG
      • DAMPAK CORONA: Ringankan Beban Sesama, Komunitas ...
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (12)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2019 (411)
    • ►  Desember (33)
    • ►  November (32)
    • ►  Oktober (32)
    • ►  September (33)
    • ►  Agustus (33)
    • ►  Juli (36)
    • ►  Juni (32)
    • ►  Mei (35)
    • ►  April (39)
    • ►  Maret (42)
    • ►  Februari (30)
    • ►  Januari (34)
  • ►  2018 (174)
    • ►  Desember (10)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (15)
    • ►  Maret (126)
    • ►  Februari (22)
  • ►  2017 (528)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (16)
    • ►  Agustus (66)
    • ►  Juli (64)
    • ►  Juni (64)
    • ►  Mei (73)
    • ►  April (53)
    • ►  Maret (72)
    • ►  Februari (64)
    • ►  Januari (55)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Maret (1)

VISITOR WEBSITE

Flag Counter

Halaman Website

  • HOME
  • MEDIA CYBER
  • PUBLIK SERVICE
Solidaritas Jember. Diberdayakan oleh Blogger.

Labels

  • BUDAYA
  • KRIMINALITAS
  • Olahraga
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
  • SOSIAL
  • UMUM
  • WISATA

Popular Post

  • Ratusan GTT di Jember, Terima SP Serta THR Yang Serahkan langsung oleh Bupati Faida MMR
  • Bupati Faida, Targetkan 9.416 Adminduk "Rampung" Melalui Pendopo Express
  • Gus Firjaun Apresiasi Upaya Bupati Faida Soal Konsep Islam dan Pancasila KH. Ahmad Siddiq

SHARE INDONESIA MAP

VISITORS

Flag Counter

Copyright © 2019 SHARE INDONESIA. Creative By Troops Dhemits Jember TROOPS DHEMITS JEMBER