• HOME
  • BUDAYA
  • KRIMINALITAS
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • PENDIDIKAN
  • PERISTIWA
  • WISATA
  • SOSIAL

Welcome To Share Indonesia

SELAMAT DATANG DI SITUS REDAKSI SHARE INDONESIA - PENYAMPAI ASPIRASI DAN MENGAWAL BIROKRASI
SHARE INDONESIA



MUSEUM ALAM: Situs purbakala berupa menhir ini banyak terdapat di Desa Biting Kecamatan Arjasa. Karena belum ada museum yang representatif, maka menhir, sarkofak serta batu kenong di situs tersebut hanya tersimpan di museum alam.


JEMBER –  Koleksi sejarah di Jember benar-benar luar biasa. Ratusan peninggalan sejarah dan prasejarah dapat ditemukan di berbagai wilayah di Jember, mulai dari artefak, arca, hinga barang-barang yang menunjukkan sisi kehidupan masyarakat ribuan tahun silam. 
Belum lagi situs-situs yang mencerminkan tempat tinggal masyarakat prasejarah yang masih tertata rapi di tempat aslinya.
Seluruh peninggalan tersebut menunjukkan bahwa Jember sebenarnya sudah ada dan menjadi saksi sejarah sejak ratusan, bahkan mungkin ribuan tahun lalu. Bahkan pada kitab Negarakertagama, terdapat bab khusus yang menjelaskan tentang perjalanan Hayam Wuruk ke Jember.
“Jember sudah terekam dalam sejarah,” ungkap Didik Purbandrio, koordinator Wilayah Juru Pelihara Balai Pelestari Cagar Budaya di Kabupaten Jember, kepada Jawa Pos Radar Jember.
Dirinya menolak dengan tegas pada pendapat bahwa Jember hanya sebuah perlintasan dalam sejarah. Menurutnya, Jember termasuk pelaku dalam sejarah nasional. “Di Jember semuanya serba kompleks, sejak zaman Majapahit Jember sudah dipandang oleh para raja Majapahit,” lanjutnya.
Namun yang memprihatinkan, seluruh peninggalan sejarah tersebut seakan ‘dianaktirikan’. Barang-barang seperti batu kenong, artefak, menhir, hingga keris dan barang bersejarah lainnya hanya diletakkan pada ruangan seluas tak lebih dari 100 meter persegi.
Sebagian diantaranya berserakan begitu saja di berbagai sudut tanpa kotak penyimpanan, bahkan ada yang terpaksa ditaruh di luar ruangan.
Ini tentu menjadi ironi, sebab dengan begitu banyaknya artefak dan situs yang terdapat di Jember, seharusnya Jember memiliki museum sebagai media penyimpanan dan perawatan yang memadai. 
Didik sendiri mengaku sudah mengajukan permohonan ke pemerintah setempat sejak dirinya baru bekerja di sana.
“Saya sudah sejak tahun 1991 mengajukan ke pemkab, tapi sampai sekarang tidak direalisasi,” akunya.
Di bawah balai pelestari cagar budaya, Didik menyebutkan bahwa lokasi penyimpanan saat ini bukanlah museum, melainkan kawasan kelompok arca pendidikan. Hanya sesekali saja tempat ini disebut sebagai museum, terutama ketika dalam even tertentu. “Kita bahkan pernah ikut lomba dan mendapat juara dua. Ini artinya potensi sejarah di Jember sangat luar biasa,” tegasnya.
Namun, alih-alih mendapat apresiasi atau tempat dan fasilitas yang layak untuk menyimpan koleksi tersebut, dirinya justru dihadapkan pada kondisi sebaliknya. Jangankan tempat yang layak, untuk merawat dan membersihkan peninggalan saja kembang kempis. 
“Ini contoh kecil, tahun 2016 saya hanya mendapat satu botol pembersih kaca, satu liter pembersih lantai, sapu, dan alat bersih-bersih semacamnya,” keluhnya. Padahal, lanjut dia, kebutuhan pemeliharaan dan perawatan cagar budaya tak hanya sekadar pembersih biasa. Apalagi untuk merawat situs-situs yang ada di luar ruangan.
Padahal peninggalan spektakuler ini juga banyak dikunjungi oleh berbagai pihak, baik domestik maupun mancanegara.
Bahkan World Wildlife Fund (WWF) dan National Geographic dibuat takjub ketika melihat sendiri koleksi prasejarah di tempat tersebut. “Mereka merasa wah dalam dua hal. Satu, koleksi seperti ini hanya ada di Jember, tidak ada di daerah atau bahkan negara lain. Kedua, terkejut karena seperti ini penghargaan pemerintah daerah terhadap koleksi dari cagar budaya,” tegasnya.
Karena itu, Didik mengaku terkejut ketika mendengar adanya inisiasi museum konstitusi dan diorama. Dirinya menilai, hal tersebut masih kalah penting dibandingkan dengan benda-benda bersejarah yang saat ini sudah ada di Jember.
“Jember masih punya banyak situs purbakala asli yang masih belum dieksplor. Belum lagi tempat penyimpanan peninggalan sejarah kabupaten sendiri yang ngenes seperti ini. Kok malah mau bikin museum konstitusi. Ini kontra-produktif,” pungkasnya. 
(jr/lin/hdi/das/JPR)

Sumber: www.radarjember.com
Jember Darurat Museum Purbakala



UNJUK PRESTASI: Dua Santri Ponpes Nuris meraih juara dalam lomba cerpen se-Jawa Timur. Bramansyah meraih juara satu dan Ayu Novita Sari meraih juara tiga.


JEMBER – Dua santri  Pondok Pesantren Nuris mampu membuktikan  karya sastra santri tak kalah  dengan karya lainnya.
Hal itu terbukti saat Ayu Novita Sari, siswa kelas XI IPS 1 dan Bramansyah, siswa kelas XI IPA 1 SMA Nuris Jember meraih juara satu dan tiga.
Dalam lomba cerpen se-Provinsi Jawa Timur (Jatim) di Universitas Merdeka  Malang.
Bramansyah (siswa kelas XI IPA 1)meraih juara satu dan Ayu Novita Sari juara tiga. Dua santri tersebut menjadi perwakilan pesantren di Jember untuk menunjukkan karya sastra pesantren diakui di dunia.
Bahkan,  tokoh pesantren yang cukup terkenal dengan karya sastranya adalah Gus Mus .
Sehingga mereka bisa menjadi generasi penerus yang akan memajukan sastra pesantren. Dua cerpen yang dibuat oleh santri itu harus bersaing dengan ratusan peserta lainnya di Jatim.
“Karya kami  masuk sepuluh besar, lalu deklamasi di aula Unmer,” kata Bramansyah.
Mereka menuliskan cerita tentang realitas sosial yang terjadi, seperti pergaulan bebas. Banyak pesan yang ingin disampaikan dalam cerpen tersebut. “Menulis untuk berdakwah, salah satunya melalui karya fiksi,” tambah Ayu.
Ayu memiliki mimpi ingin menjadi penulis yang mahir sehingga bisa menjadi sastrawan pesantren, sepergi Gus Mus.
Karyanya diakui oleh dunia dan bisa menyebarkan dakwah khazanah Islam nusantara dan pesantren. “Apalagi sekarang, peminat sastra tidak banyak, sehingga perlu terus ditingkatkan,” akunya.
Sebelum penentuan juara, di babak final Ayu Novita Sari sempat berada di peringkat 1 dari 10 besar yang akan maju untuk mempresentasikan cerpennya.
Namun, akhirnya siswa cerdas ini harus cukup puas meraih juara 3, mendapat tropi, dan dana pembinaan.
“Meski agak kecewa sedikit, saya tetap bersyukur bisa membanggakan nama Nuris di Kota Malang ini. Toh yang juara 1 juga teman saya dari SMA Nuris Jember. Semoga ini mejadi langkah awal saya untuk terus mengembangkan bakat menulis saya,” tutur Ayu.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Kak Ibnu Wicaksono selaku pembina kami yang telaten, dan mampu membangkitkan semangat kami untuk menulis yang baik sehingga bisa juara seperti ini,” imbuhnya.
Tak hanya itu, pesantren juga bisa menjadi alat untuk mengkritik penguasa. Melalui karya fiksi, kebijakan pemerintah bisa dikoreksi dengan tulisan-tulisan yang satire. Sehingga fungsinya cukup beragam.
Pengasuh Ponpes Nuris Gus Robith Qosidi mengapresiasi prestasi dua santrinya tersebut. Nuris ingin memunculkan sastrawan-sastrawan baru dari pesantren. Sehingga menyediakan wadah kegiatan bagi santri yang suka menulis, yakni melalui kegiatan ekstrakurikuler.
(jr/gus/aro/das/JPR)

Sumber: www.radarjember.co.id
Karya Sastra Santri Nuris Juara Jatim



KUNJUNGAN RESMI: Sekjen MK Guntur Hamzah (berjas/berdasi) menerangkan sejarah berdirinya museum di gedung MK di Jakarta, kemarin. Jika Jember memiliki Museum Diaroma Konstitusi, maka akan dikolaborasikan dengan muatan lokal.


JAKARTA - Keinginan Jember memiliki Museum Diorama Konstitusi dan Pancasila semakin mendekati realisasi. Supaya bisa dibangun sempurna di Jember, Bupati Faida kembali mendatangi Mahkamah Konstitusi (MK), Rabu (23/8) siang kemarin. 
Bupati memasang target pendirian museum diorama konstitusi dan Pancasila pertama di Indonesia itu di tahun 2018. Bahkan pihaknya sudah menyiapkan gedung eks BHS untuk museum.
Sedangkan kantor dinas yang masih tersisa akan dipindah. Museum gagasan Bupati Faida, itu diyakini bakal menjadi jujukan wisatawan edukasi, sejarah, kebangsaan dan budaya, se wilayah Tapal Kuda.
"Destinasi wisata yang mencerdaskan dan menumbuhkan nasionalisme, memang menjadi ambisi Pemkab Jember," kata Bupati Faida. 
Sementara Sekretaris Jenderal (Sekjen) MK, Guntur Hamzah, mengaku belum ada pemerintah daerah se Indonesia yang berani membangun museum seperti Jember. Sehingga katanya, pihak MK pun siap mengkawal realisasi pembangunan museum di Jember. 
Bahkan kata Guntur, MK dan Pemkab Jember, sudah sepakat bekerja sama untuk pembangunan museum konstitusi dan Pancasila pertama se Indonesia di Jember.
"Sudah. Kerjasama sudah kami tandatangani dengan Bupati Jember," akunya. 
Menurut Guntur, menjadi kewajiban MK membantu Pemkab Jember, karena kedua institusi itu memiliki kesamaan misi, memasyarakatkan konstitusi dan Pancasila.
Museum sejarah konstitusi Indonesia itu sendiri, terletak di lantai 5 dan 6, Gedung MK di Jalan Medan Merdeka Barat Jakarta Pusat. Museum yang dilengkapi teknologi digital seperti, multimedia (hologram), diorama, relief, hingga panel grafis, memang begitu menarik dikunjungi. 
Pengunjung semakin diperkaya pengetahuan yang mendidik, karena museum itu ada delapan zona. Mulai dari pra kemerdekaan, kemerdekaan, hingga zona Mahkamah Konstitusi yang ada saat ini.
Semakin menarik, karena ada ruang sinema konstitusi yang menyerupai studio bioskop.
Salah satu bukti museum itu menarik, saat bupati membaca surat Soekarno untuk Sudirman, dibuat haru atas tulisan tentang Soekarno yang berpamitan pada Sudirman, akan meninggalkan Jogjakarta menuju Jakarta karena tugas menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS).
Bukan hanya sekadar tempat belajar mengenal sejarah konstitusi, game seperti kuis mendidik yang menyenangkan, juga ada di museum seluas 1.462 meter persegi tersebut.
Belum lagi spot selfie yang hampir semua titik, layak untuk diabadikan dalam sebuah dokumentasi. Beberapa cerita sejarah tentang perjuangan Soekarno, juga ada di museum tersebut.
Setelah keliling meninjau museum di kantor MK, bupati langsung menggelar rapat bersama sejumlah Kepala organisasi perangkat daerah (OPD) yang dibawanya dari Jember. Beberapa petinggi MK, pun ikut dalam rapat tersebut. 
Seusai rapat, Bupati Faida, menegaskan bahwa museum diorama di Jember harus lebih bagus ketimbang yang di MK Jakarta. Terlebih, dia berencana museum di Jember ada hingga 4 lantai.
Bukan hanya itu, beberapa kisah sejarah pejuang Jember, seperti Letkol Moch Sroedji, juga ada dikisahkan di museum tersebut. Begitu pula soal kerajaan yang konon pernah ada di Puger. 
Supaya lebih bagus, di hari-hari tertentu harus ada pertunjukan cerita Dewi Rengganis. "Saya inginkan museum yang di Jember, ada muatan lokalnya," katanya.
Paling penting, kata Faida, komitmen Jember ramah difabel, juga harus diterapkan di museum yang digagasnya itu. Supaya pesannya lebih mudah ditangkap pengunjung, nantinya tour guide juga akan didik langsung MK.
(jr/rul/hdi/das/JPR)

Sumber: www.radarjember.com
Museum Diorama Konstitusi Selangkah Lagi Bakal Terealisasi



DORONG SEKUAT TENAGA: Aneka permainan tradisional dilombakan di ajang HUT RI  yang berlangsung di Alun-alun kota, kemarin. Seluruh kecamatan turut ambil bagian.


Jember – Permainan tradisional tetap menjadi game yang tidak tergantikan. Banyak hikmah yang bisa diambil dari olahraga ini. Mulai dari kebersamaan, kekompakan hingga kepemimpinan. Semangat inilah yang ingin digelorakan oleh para pejabat tingkat kecamatan dan UPTD, di Alun-alun Jember, kemarin (23/8).
”Sangat ramai, lucu dan menghibur. Inilah misi lain kami,” kata Prihastono Rahman, salah satu panitia kegiatan lomba tradisional peringatan HUT RI. Kegiatan itu berlangsung  selama dua hari. Dan baru berakhir kemarin siang.
Ada aneka permainan yang dilombakan. Mulai permainan terompah panjang, dagongan, balap karung dan egrang. Semua terlihat antusias dan kompak untuk berebut juara. “Peserta yang ikut ini dari kecamatan, UPTD dan sekolah,” kata Prihastono Rahman.
Lomba permainan tradisional yang dilakukan selama dua hari tersebut sekaligus untuk meningkatkan kebersamaan para pegawai kecamatan dan sekolah. Kegiatan itu diselenggarakan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Jember. Para peserta menunjukkan kemampuannya dalam permainan terompah panjang. “Dari permainan ini kebersamaan bisa semakin meningkat. 
Kemudian, permainan dagongan juga tak kalah serunya. Mereka bergantian menunjukkan kemampuan terbaiknya. Begitu juga dengan permainan balap karung dan egrang yang tak kalah ramai. “Ini juga agar permainan tradisional terus terjaga, kami lakukan setiap tahun,” tuturnya. 
Dari permainan ini,  semangat nasionalisme diharapkan terus terawat. Sehingga bisa menjaga keutuhan NKRI. Selain itu, juga mampu meningkatkan kerja. “Lomba ini untuk umum dan berusia di atas 16 tahun ke atas,” aku pria yang akrab disapa Anton tersebut.
Dia menilai banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan semangat kerja. Seperti kegiatan yang dilakukannya tersebut. Momentum peringatan HUT RI bisa menjadi wadah untuk menyegarkan semangat kerja.
Selain itu, juga meningkatkan semangat juang untuk meneruskan cita-cita para pendiri bangsa. Yakni menjaga dan merawat keutuhan NKRI. Mengembangakan potensi alam sehingga menjadi negara yang sejahtera. “Kegiatan ini juga menjaga fisik agar selalu sehat,” pungkasnya. 
(jr/gus/hdi/das/JPR)

Sumber: www.radarjember.com
Seru-seruan di Lomba Tradisional



JEMBER, Indikatoronline – Mewujudkan Jember menjadi embarkasi antara, sudah tinggal selangkah lagi. Bandara kebanggaan warga Jember, Notohadinegoro, bakal dirombak layaknya bandara berkelas di kota besar. Meyakinkan, setelah Menteri Perhubungan berkunjung ke Jember, Minggu (20/8/2017).
Menurut Menhub RI Budi Karya Sumadi bahwa dirinya sudah rapat dengan Bupati dan Ketua DPRD Jember terkait menindaklanjuti ide dari Presiden RI dan Bupati Jember. “Kita rencanakan nanti kalau mau ke kalimantan, sulawesi tidak perlu ke Jakarta dan Surabaya tetapi cukup langsung dari sini,” katanya.
Masih kata Menteri Perhubungan RI bahwa dirinya datang ke Jember untuk menindaklanjuti yang disampaikan Presiden Joko Widodo untuk perluasan bandara Notohadinegoro dengan panjang 2400 meter dengan lebar 45 meter. “Kita jadikan bandara Jember bisa di darati airbus 720 yang dimiliki semua penerbangan Nasional, dan yang mengoperasikan operator bandara bisa oleh BUMD, BUMN, atau Swasta,” katanya.
Jember sangat potensial mulai dari wisata melalui JFC dan wisata Religius yang membuat Menteri Perhubungan akan membangun bandara Notohadinegoro supaya cepat selesai. “Jember yang potensial ini harus ikut andil dalam semuanya, untuk pembangunan Embarkasi antara haji dan umroh akan mulai tahun ini, kita menyelesaikan pekerjaan teknis dan dimulai bangun awal tahun 2018,” ujarnya.
Budi Karya Sumadi berharap bahwa Jember Fashion Carnaval (JFC) di jember tidak hanya diadakan 1 kali dalam setahun tetapi 2 kali dalam setahun dimana wisata dibali bisa datang ke jember. “Jember harus ikut andil mulai wisata JFC maupun Religi karena jember sangat potensial,” harapannya. (Samsul Arifin)

Sumber http://indikatoronline.com/2017/08/20/faida-bakal-sulap-bandara-notohadinegoro/
Faida Bakal Sulap Bandara Notohadinegoro



KREATIVITAS BARU: Ari Nuriyanto menunjukkan kerajinan miniatur yang dibuatnya dari bambu-bambu bekas lingkungan sekitar.


Kerajinan yang terbuat dari bambu ini memanfaatkan bambu bekas di lingkungan sekitar. Namun, Ari Nuriyanto menjadikannya sebagai barang yang memiliki nilai seni cukup tinggi. Misal dijadikan sebagai patung JFC, daun tembakau, atau ikon Jember lainnya. 
Beberapa kerajinan berupa miniatur kecil dipajang di rumah kos Ari Nuriyanto. Mulai dari kapal, ikon JFC, daun tembakau, mobil hingga kerapan sapi. Miniatur tersebut dibuat dengan alat yang sederhana, seperti pisau dan gergaji dan lainnya.
Di Jalan Suparman Gang VIII, Ari membuat kerajinan miniatur dari bambu di tempat yang terbatas. Sebab, belum memiliki lokasi yang memadai hanya memanfaatkan pelataran rumah kos yang sempit. Namun semangat untuk berkreasi tak pudar.
Pria yang akrab disapa Ari tersebut membuat kerajinan miniatur  saat anaknya meminta mainan perahu kecil. Tak ambil pusing, daya kreatifnya muncul untuk membuat sendiri dari bambu. Ketika selesai, mainan itu cukup menarik.
Bahkan, saat tetangga lain melihat mainan tersebut, juga tertarik untuk dibuatkan. Akhirnya Ari membuat lagi untuk dijual kepada orang lain. “Awalnya dari sana saya memulai membuat kerajinan miniatur ini,” terangnya. 
Dia tak menyangka jika permintaan sang anak itu akan menjadi pekerjaan yang menghasilkan uang. Sebab, ada beberapa permintaan lain untuk dibuatkan miniatur mainan. Tak ingin melewatkan kesempatan begitu saja, Ari membuat kerajinan dengan jumlah yang cukup banyak. 
Kemudian, membawanya ke Alun-alun Jember saat car free day. Ternyata ketertarikan pengunjung acara itu cukup tinggi. Banyak yang bertanya, lalu membeli untuk dibuat pajangan di rumah. “Waktu itu terjual beberapa unit, harganya beragam, ada yang Rp 50 ribu” ucapnya. 
Dari situlah, pria kelahiran Surabaya tersebut mulai mengembangkan kerajinan miniatur yang terbuat dari bambu. Yakni sekitar Mei 2017 lalu. Inspirasi itu terus berkembang sat dia menjajakan barangnya ke beberapa tempat, seperti kafe, penginapan dan lainnya. 
Ari jalan kaki untuk memperlihatkan karyanya, seperti miniatur kerapan sapi, kapal, bakul jamu, sepeda onthel gerobak bakso dan lainnya. Pelan tapi pasti, muncul ketertarikan orang-orang untuk memiliki kerajinan itu. “Awalnya saya ragu apa kerajinan ini bisa diterima,” ucapnya. 
Respons masyarakat yang cukup tinggi membuat Ari memutuskan menekuni kerajinan tersebut. Dalam sehari, dia bisa membuat sepuluh kerajinan. Satu miniatur dengan tingkat kesulitan yang ringan bisa dikerjakan selama dua jam. 
Caranya memotong bambu sesuai keinginan kerajinan yang dibuat. Kemudian dirangkai menggunakan lem hingga melekat. Setelah itu memberikan warna sesuai dengan kebutuhan. Lalu dijemur hingga kering. 
Ari mengaku membuat kerajinan itu belajar secara otodidak. Beberapa tahun sebelumnya sudah pernah bergelut dengan kegiatan itu. Namun berhenti karena bekerja sebagai sales salah satu produk. Sekarang, dirinya kembali berwiraswasta dan memilih berhenti menjadi karyawan.
Dirinya ingin menciptakan miniatur yang bisa menjadi ikon Jember. Seperti miniatur yang banyak bertebaran di Jogjakarta. Sehingga ketika ada tamu yang datang ke Jember, mereka bisa memiliki oleh-oleh khas Jember. “Saya juga coba tawarkan ke outlet oleh-oleh khas Jember,” akunya. 
Saat pelaksanaan Jember Fashion Carnaval (JFC), Ari memamerkan karya pada event tersebut. Lagi-lagi masyarakat banyak yang tertarik dan membelinya. Apalagi dibanderol dengan harga yang terjangkau, yakni dari Rp 30 ribu hingga Rp 350 ribu.
Baginya, kerajinan miniatur dari bambu itu memiliki keunggulan yang unik dan antik. Sebab, memunculkan kesan natural dari pohon bambu. “Saya tidak memperhalusnya agar tampak dari kerajinan bambu,” ucapnya. 
Dari kerajinan itu, Ari mampu menghasilkan uang karena sudah banyak yang pesan, terutama di wilayah Jember sendiri. Sedangkan permintaan dari luar kota masih bisa dihitung dengan jari. “Karena masih baru memulai, banyak yang belum tahu,” pungkasnya.
(jr/gus/hdi/das/JPR)

Sumber: www.radarjember.com
Manfaatkan Bambu Bekas, Ciptakan Berbagai Landmark Jember
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

WELCOME TO SHARE INDONESIA

SELAMAT DATANG DI SITUS REDAKSI SHARE INDONESIA - BERSAMA MENGAWAL BIROKRASI

BAKAL CALON BUPATI JEMBER

BAKAL CALON BUPATI JEMBER

FANS PAGE FACEBOOK

Trending Post

Partisipasi Pemerintah Desa Tanggul Kulon Bendung Penyebaran Virus Corona Patut Diapresiasi

JEMBER, Share Indonesia.id - Kebijakan pemerintah desa Tanggul Kulon Kecamatan Tanggul Jember, dalam mengisolasi warganya yang mudik dari ...

Categories

  • BUDAYA
  • EKONOMI
  • KRIMINALITAS
  • Olahraga
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • PENGUMUMAN
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • SOSIAL
  • UMUM
  • WISATA

Recent Posts

Website Archive

  • ▼  2020 (28)
    • ▼  April (3)
      • Partisipasi Pemerintah Desa Tanggul Kulon Bendung ...
      • 2 Pemudik Zona Merah Masuk Isolasi JSG
      • DAMPAK CORONA: Ringankan Beban Sesama, Komunitas ...
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (12)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2019 (411)
    • ►  Desember (33)
    • ►  November (32)
    • ►  Oktober (32)
    • ►  September (33)
    • ►  Agustus (33)
    • ►  Juli (36)
    • ►  Juni (32)
    • ►  Mei (35)
    • ►  April (39)
    • ►  Maret (42)
    • ►  Februari (30)
    • ►  Januari (34)
  • ►  2018 (174)
    • ►  Desember (10)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (15)
    • ►  Maret (126)
    • ►  Februari (22)
  • ►  2017 (528)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (16)
    • ►  Agustus (66)
    • ►  Juli (64)
    • ►  Juni (64)
    • ►  Mei (73)
    • ►  April (53)
    • ►  Maret (72)
    • ►  Februari (64)
    • ►  Januari (55)
  • ►  2016 (1)
    • ►  Maret (1)

VISITOR WEBSITE

Flag Counter

Halaman Website

  • HOME
  • MEDIA CYBER
  • PUBLIK SERVICE
Solidaritas Jember. Diberdayakan oleh Blogger.

Labels

  • BUDAYA
  • KRIMINALITAS
  • Olahraga
  • PEMERINTAHAN
  • PENDIDIKAN
  • POLITIK
  • SOSIAL
  • UMUM
  • WISATA

Popular Post

  • Ratusan GTT di Jember, Terima SP Serta THR Yang Serahkan langsung oleh Bupati Faida MMR
  • Bupati Faida, Targetkan 9.416 Adminduk "Rampung" Melalui Pendopo Express
  • Gus Firjaun Apresiasi Upaya Bupati Faida Soal Konsep Islam dan Pancasila KH. Ahmad Siddiq

SHARE INDONESIA MAP

VISITORS

Flag Counter

Copyright © 2019 SHARE INDONESIA. Creative By Troops Dhemits Jember TROOPS DHEMITS JEMBER